Empat Fakta Unik di balik Pilkada Pati 2017

Pengguna hak pilih di TPS 1 Desa Lahar - Tlogowungu

kabardesaonline.com - Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Pati tahun 2017 selesai sudah. Pasangan Haryanto - Saiful Arifin terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Pati untuk masa tugas 2017-2022 setelah mengantongi suara 519.668 atau 74,52 % dari total pengguna hak pilih 711.521 orang, unggul telak dari Kota Kosong yang hanya mendapat 177.682 suara atau 25.48 %.  Sekedar diketahui DPT Pati adalah 1.035.825 (sumber : website resmi KPU Pati)

Ada banyak hal menarik dibalik Pilkada Pati tahun 2017 ini, berikut Empat Fakta Unik di balik Pilkada Pati 2017 versi kabardesaonline.com

1.        Mendagri termakan berita Hoax, sebut Kotak Kosong menang
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sempat termakan berita hoax alias palsu dengan menyebut bahwa Kotak Kosong menang sebelum akhirnya diklarifikasi.
"Ada yang menarik, kotak kosong menang. Dan itu di daerah padat penduduk, padat pemilih. Hampir 1,5 juta di Pati," ujar Tjahjo, di Istana Negara, Jakarta, Kamis 16 Februari 2017, seperti dikutip dari laman viva.co.id.

image : viva.co.id

Sangat menggelitik sekali, sekelas Menteri sampai begitu ceroboh mengeluarkan statement di tengah-tengah perang melawan berita hoax yang digaungkan pemerintah. Padahal ada sumber yang lebih kredibel untuk mengetahui hasil penghitungan suara yakni KPUD setempat, Mengingat pernyataan mantan Sekjen PDIP periode 2010-2015 itu dikeluarkan sehari pasca hari pencoblosan (red)

Seperti diketahui, saling klaim kemenangan memang terjadi dalam Pilkada Pati 2017 kemarin, baik kubu Harfin (Haryanto - Saiful Arifin) maupun Kotak Kosong mengaku sudah mengantongi hasil coblosan melalui hitung cepat versi mereka.  Klaim mereka disebar via media sosial bahkan lewat telekonferensi radio lokal.


2.        Pemilih pemula banyak yang grogi dan salah coblos
Pemilih pemula adalah pemilih yang baru akan menggunakan hak pilihnya, kebanyakan dari mereka para remaja yang baru atau sudah menginjak usia 17 tahun di hari pencoblosan.  Selain syarat usia 17 tahun, mereka yang sudah / pernah kawin; dan Purnawirawan / Sudah tidak lagi menjadi anggota TNI / Kepolisian juga bisa disebut sebagai pemilih pemula.



Informasi yang dihimpun kabardesaonline.com di lapangan, baik wawancara langsung dengan pemilih pemula maupun penuturan para petugas di TPS kebanyakan pemilih pemula mengaku grogi dan gemetar ketika sudah ada di dalam bilik untuk mencoblos.

“ Banyak gadis belia yang tampak grogi sampai salah coblos, mungkin karna itu pengalaman pertama bagi mereka.  Beberapa dari mereka meminta surat suara baru kepada anggota KPPS karna salah coblos ” tutur salah seorang anggota KPPS di Desa Lahar Kec. Tlogowungu yang tidak disebutkan identitasnya (19/02).

“ Lain ceritanya dengan Titik (42), Ibu dua anak ini kepada kabardesaonline.com bercerita bahwa anak gadisnya yang merupakan pemilih pemula minta ditemani di dalam bilik dan minta ditunjukkan tata cara mencoblos yang sah.

3.        Mencoblos “Kotak Kosong” karna tidak suka dengan Tim Sukses Paslon
Perolehan suara Kotak Kosong yang mencapai 25 persen tidak serta merta bisa diartikan bahwa banyak rakyat yang tidak setuju dengan calon Petahana.  Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa banyak pencoblos Kotak Kosong memiliki motif lain, diantaranya tidak suka dengan Timses Paslon yang ada di tingkat desa.

Konflik pribadi maupun kelompok di akar rumput menjadikan gerakan coblos Kotak Kosong sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap Timses Paslon yang terdiri dari unsur pengurus partai maupun Pemdes.

4.        Banyak yang mau nyoblos Ahok
Masyarakat awam yang kurang mendapat sosialisasi banyak yang tidak mengenal sosok calon Bupati dan Wakil Bupati mereka. Ramai diperbincangkan H-1 sebelum pencoblosan bahwa ibu-ibu yang beraktifitas di Pasar Desa Lahar berseloroh akan memilih Ahok di Pilkada Pati 2017.

Pemberitaan mengenai Ahok yang hampir setiap hari tidak bisa dipungkiri telah menjadi Top of Mind bagi sebagian masyarakat di kalangan bawah.  Rata-rata mereka tidak memahami bahwa Ahok adalah calon Gubernur untuk wilayah DKI Jakarta.



Tidak hanya di desa Lahar, kontributor kabardesaonline.com melaporkan bahwa fenomena tersebut banyak juga terjadi di wilayah lainnya. Kebanyakan mereka yang mengidolakan Ahok dan akan mencoblosnya adalah kalangan ibu-ibu yang minim pengetahuan dan mereka yang lanjut usia.

Reporter : Abdul Rohim
Editor : Saiful M

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Empat Fakta Unik di balik Pilkada Pati 2017"

Posting Komentar

HAK JAWAB DAN KOREKSI BISA DIKIRIMKAN KE EMAIL KAMI ATAU BISA DITULIS DI KOLOM KOMENTAR