Terlalu ! hanya karna alasan ini “oknum” pemburu brekatan rela saling sikut

berebut brekatan sampai merusak punden di Lahar - Tlogowungu

kabardesaonlione.com, Pati - Ritual sedekah bumi yang saben tahun digelar masyarakat Jawa memang menyuguhkan sejuta warna.  Selain pagelaran berbagai kesenian adat khas Jawa secara marathon, tradisi “kondangan” juga menjadi salah satu destinasi tontonan dan hiburan yang tak luput dari perhatian.

Kabupaten Pati sebagai salah satu daerah di Jawa Tengah yang masih kental dengan adat dan kultur Jawa nya setiap bulan Apit (Tahun Islam = Dzul Qo’dah)  akan selalu diramaikan dengan tradisi “kondangan” atau berburu “brekatan” yang di lain daerah sering juga disebut “ambengan”.

Penelusuran oleh tim kabardesaonline.com di berbagai desa di wilayah Pati mendapati beberapa fakta yang terungkap terkait dengan antusiasme yang belakangan bergeser arah ke egoisme dalam tradisi kondangan memperebutkan keranjang bambu berisi paket nasi lengkap dengan lauk pauknya tersebut (red).

seorang warga di Lahar kumpulkan brekatan di RT masing-masing sebelum dibawa ke Punden untuk ritual

Berbagai narasumber yang diwawancarai mengungkapkan bermacam-macam alasan mereka berburu brekatan, namun pola yang muncul hampir sama, di antara alasan-alasan tersebut adalah :

1.      Ikut-ikutan
Usia remaja sampai muda yang paling banyak memakai alasan ini.  Sekedar ikut-ikutan karna diajak oleh teman atau saudara. Tidak ada tujuan atau niatan khusus dalam kondangan, biasa juga karna diundang oleh teman yang kebetulan di daerahnya sedang berlangsung sedekah bumi, yang jelas dalam keadaan yang incidental atau tidak direncanakan.

2.      Iseng dan Penasaran
Ada sekumpulan ibu-ibu di Pati yang berprofesi sebagai pengajar atau guru kepada kabardesaonlione.com baru-baru ini mengaku iseng dan penasaran untuk merasakan brekatan dan  sensasi kondangan. Pada tahun ini mereka mencoba ikut kondangan di suatu desa dan itu merupakan untuk kali pertama mereka lakukan selama hidup.

3.      Hobi
Bagi yang punya alasan senang atau hobi tak perlu dijelaskan lagi, mereka bisa berasal dari segala umur dan kalangan, alasan mereka ya memang karna senang melakukannya, dan tidak terlalu mementingkan mendapat seberapa banyak brekatan dan enggan untuk saling berebut, rata-rata mereka mengaku senang hanya dengan menyaksikan orang-orang saling berebut brekatan.

4.      Dijual
Banyak para pemburu brekatan yan mungkin pintar memanfaatkan momen atau memang terhimpit kebutuhan ekonomi memakai alasan ini.  Mereka mencari brekatan sebanyak-banyaknya dan dijual ke siapapun yang berminat dengan harga mulai dari Rp 10.000 sampai dengan Rp 20.000,-  per tlandik (anyaman bambu tempat brekat).  Pembeli mayoritas dari kalangan pedagang pasar dan pemilik tambak ikan. Selain mencari brekatan di rumah-rumah penduduk mereka juga berebut di “Punden” tempat brekatan dikumpulkan untuk ritual sedekah bumi.

5.      Percaya Mitos
Bagi golongan ini didominasi oleh masyarakat pesisir, mereka sangat percaya pada mitos bahwa nasi brekatan memiliki berkah dan kekuatan magic yang luar biasa. Bahkan rela berebut mengais nasi yang kotor karna tumpah di tanah dan sudah diinjak-injak oleh orang banyak yang saling berebut. Beberapa dari mereka percaya bekatan dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis dan memaksimalkan hasil tambak dan pertanian.

6.      Mengumbar Nafsu
Yang terakhir adalah mereka yang memang karna mengumbar kesenangan yang berlebihan.  Kepada kabardesaonline.com  mereka para oknum pemburu brekatan yang egois itu mengaku belum puas sampai mereka mendapat puluhan keranjang. Dalam mendapatkannya mereka tak enggan untuk saling sikut-sikutan dengan orang lain, bahkan tak jarang kendaraan panitia yang mengangkut brekatan untuk dibawa ke punden dihadang sebelum sampai tujuan dan direbut paksa meskipun sudah diamankan.

Setelah mereka mendapat banyak brekatan beberapa mengaku bahwa setelah di bawa pulang ke rumah hanya di makan seperlunya saja. Sisanya dibiarkan basi  dan membusuk kemudian dibuang, atau untuk pakan ayam.

Catatan kejadian yang dihimpun kabardesaonline.com di lapangan sejak tahun 2010 s/d 2016 ini ditemukan tidak sedikit aksi kekerasan fisik oleh para oknum pemburu brekatan tersebut ketika saling berebut, baik kekerasan yang ditujukan kepada Panitia maupun kepada sesama pemburu brekatan dalam sedekah bumi di wilayah kecamatan Tlogowungu.

Banyak pula ditemui warga dari luar daerah yang sama sekali tidak mendapat brekatan, dan malah mendapat luka fisik akibat mereka yang arogan berburu brekatan padahal sebetulnya sudah mendapat cukup banyak namun masih saja tidak memberi kesempatan yang lain untuk mendapat.


“Andai saja mereka yang kondangan mau tertib, pasti akan kabagian semuanya secara merata. Mereka tak harus saling berebut, cukup antri satu persatu di depan Punden biar Panitia yang membagi, kalau begini kan kasihan yang kalah kekuatan fisik, tak dapat apa-apa”  tutur Mat Munahar salah seorang ketua RT di desa Lahar Tlogowungu saat menyaksikan riuhnya aksi saling rebut brekatan di Punden.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Terlalu ! hanya karna alasan ini “oknum” pemburu brekatan rela saling sikut"

Posting Komentar

HAK JAWAB DAN KOREKSI BISA DIKIRIMKAN KE EMAIL KAMI ATAU BISA DITULIS DI KOLOM KOMENTAR