Darurat cinta remaja, intervensi orang tua mutlak diperlukan


ilustrasi : sumber gambar jawapost

Cinta, satu kata sejuta makna, itu kata para pujangga. Dan mungkin ungkapan itu sudah tepat karna memang tidak pernah ada satu pun definisi tentang cinta yang dapat memuaskan semua orang. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Cinta merupakan wakil dari perasaan kasih, sayang, atau rindu yang sangat dalam, sedangkan menurut beberapa ahli pesikologi cinta adalah “ketertarikan yang tidak masuk akal yang bisa muncul secara instant (cepat) dan tidak permanent alias ada masa kadaluarsanya / memiliki tidak jenuh, dan untuk tetap melanjutkan kebersamaan dengan pasangan setelah cinta itu kadaluarsa adalah dengan kasih sayang, dimana kasih sayang itu sendiri adalah “keputusan sadar untuk menjadikan kebersamaan seseorang” (pen).

Terlepas dari itu semua, setiap insan berhak dan bebas mendefinisikan dan mengartikan cinta itu seperti apa, terlebih di kalangan remaja yang masih sangat labil pemikirannya. Cinta oleh remaja diartikan sangat dangkal, sepotong-sepotong, dan tidak objektik, melainkan diartikan dan diyakini seperti apa yang mereka hadapi dan mereka rasakan, 

seperti hikayat 4 orang buta yang dikenalkan dengan seekor gajah, yang kebetulan hanya memegang ekor menganggap gajah itu adalah seperti cambuk, yang kebetulan merangkul kakinya mengartikan gajah seperti batang pohon kelapa, yang meraba-raba perutnya gajah dirasa seperti tembok yang menggantung, dan yang hanya memegang telinga gajah olehnya dianggap tipis dan lebar. Seperti itu pula para remaja yang terlibat dalam cinta yang cenderung ke romantika antara pria dan wanita memahami cinta sesuai suasana hati mereka. Mereka yang tak segan-segan selalu berkorban dan merasa ringan memberi apapun karna cinta memahami cinta adalah pengorbanan, mereka yang terbiasa apa adanya mengatakan cinta adalah ketulusan, mereka yang selalu beruntung mendapatkan seseorang pujaannya yang lantas membuatnya bahagia tak henti-hentinya berdendang bahwa cinta adalah sumber bahagia, dan mereka yang dalam posisi selalu tersakiti dan tercampakkan melihat cinta adalah sebuah hal yang identik dengan luka.

Dari pengartian dan pemahaman bebas tentang cinta oleh remaja yang sangat kompleks tersebut, semakin mengukuhkan cinta sebagai persoalan yang menempati urutan teratas dari beberapa problema yang sangat menentukan masa depan remaja. Bila perhatian orang tua, lingkungan, pergaulan, dan pendidikan berpengaruh membentuk pola pikir dan intelegensi remaja, maka cinta berpengaruh menentukan langkah-langkah strategis atau pilihan yang paling ekstrim sekaligus dalam fase kehidupan remaja.

Sebagai contoh, tatkala remaja sedang jatuh cinta, maka hatinya akan selalu berbunga-bunga, imajinasi meningkat, dan cenderung akan menggila (melakukan hal-hal yang tidak wajar) demi untuk memenuhi hasratnya. Melakukan apapun demi mendapatkan seseorang yang ia suka, bahkan akan rela mengorbankan materi, sekolah, persahabatan, dan lebih miris lagi kehormatan akan diberikan kalau itu memang bisa membuatnya tetap bersama dengan orang yang ia cinta.

Seorang remaja yang sedang dilanda cinta tiada waktu dalam kesadarannya kecuali hanya mengingat dan teringat orang yang ia cinta, dalam bahasa cinta disebut “kasmaran”, dan ketika dia kecewa karna cinta tak terbalas atau putus cinta maka seolah-olah hidupnya pun berakhir, dunia serasa kiamat, dan hatinya hancur berkeping-keping. Biarpun diganti dengan seribu pria/wanita tetap saja lebih memilih orang yang ia cinta, walaupun secara kenyataan orang yang ia cintai sebenarnya tidak pantas untuk selalu dipuja melebihi segalanya, logika tidak lagi bekerja, dan tidak salah lagi ini yang kemudian sering disebut “cinta itu buta”, dalam hadits Nabi pun ada disinggung soal cinta yang cenderung membutakan ini, “Kecintaanmu terhadap sesuatu dapat membuatmu buta dan tuli” hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dalam moment-moment yang menentukan masa depan remaja cinta akan memegang peran yang sangat besar. Seperti ketika remaja hendak memilih sekolah lanjutan, maka ia akan memilih yang satu sekolah atau setidaknya tidak jauh dengan orang yang ia cinta, bahkan ada yang drop out dari sekolah karena orang yang ia cinta tidak lagi ada di sana, atau tidak sanggup lagi kalau terus-terusan bertemu dengan orang yang ia cinta tersebut karna sudah membuat terluka. Dalam lingkup dunia kerja juga tidak jauh beda, cinta selalu dijadikan candu untuk alasan mencapai kesuksesan dan dalam waktu yang sama juga dijadikan kambing hitam dalam setiap kegagalan. Seolah-olah sangat sulit dan terasa tidak mungkin untuk keluar dari belenggu cinta dan bangkit dari keterpurukan yang disebabkan oleh cinta pula.

Setiap orang yang sudah dewasa pasti akan menyadari kebodohan dan kelucuannya sendiri saat mengingat apa yang ia lakukan ketika ia masih remaja dulu. Betapa tidak masuk akalnya ketika dulu menangis berhari-hari hanya karna dilukai seseorang yang sebenarnya tidak memiliki peran apapun dalam hidupnya, ketika lebih memilih melakukan hal-hal bodoh yang sama sekali tidak bermanfaat hanya demi menuruti permintaan orang yang dicinta, saat berkata bahwa tidak bisa hidup tanpa dia, dan saat berkata bahwa tidak ada satupun pria/wanita yang lebih baik dari dia.

Dalam dewasa ini, dimana kemajuan teknologi informasi dan komunikasi semakin menjadi-jadi, yang kita rasa terhadap remaja dampak negatif tampaknya lebih dominan daripada dampak positifnya tidak ada cara lain kita sebagai yang lebih dewasa dan telah sukses melewati fase remaja dengan aman untuk mengambil langkah-langkah strategis guna menyelamatkan remaja dari “belenggu cinta”.   Selain nasehat, motivasi, pendidikan, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pembenahan karakter, ada hal lain lagi yang sebenarnya tidak kalah penting, sepertinya sepele, tapi mungkin akan sangat efektif untuk kita terapkan, diantaranya :

1.  Selalu monitor status percintaan anak, adik, atau saudara kita yang masih remaja. Memonitor beda dengan melarang, memonitor artinya kita bisa lebih melihat dan meraba dari dekat seperti apa kisah cinta anak, adik, atau saudara kita yang masih remaja tersebut. Bila kita sungkan bertanya secara langsung atau takut membuatnya tidak nyaman, bisa kita tanyakan atau cari tahu dari teman atau sahabatnya. Kita jangan sampai terlalu dangkal menyelami dunia cinta remaja, jangan karna hanya kita melihat pergaulannya sudah aman, atau tingkah lakunya sudah benar, lantas kita juga menganggap dia aman dari belenggu atau ancaman cinta yang menyesatkan, efek cinta bisa bekerja kepada siapa saja, tidak memandang karakter atau sifat seseorang remaja. Pastikan status percintaannya jelas (jelas baik dan tidak sampai mengganggu, lebih-lebih merusak pendidikan dan karakternya)

2.      Tatkala remaja itu ada pada masa-masa galau, bahkan hatinya hancur karna cinta, tidak perlu kita terlalu memaksakan nasehat, karna sebagus apapun, dan selogis apapun nasehat itu, meskipun kita ulang-ulang ratusan kali, bahkah berganti-ganti pula orang yang menasehati tetap saja tidak akan bisa akalnya menerima.  Sebisa mungkin dan sesering mungkin ajak dia untuk sibuk, akan lebih bagus lagi bila kesibukan itu juga melibatkan fikirannya. Dengan aktifitas atau kesibukan pastinya tidak akan sempat membuat fikirannya menerawang memikirkan persoalan cinta, lambat laun sang pujaan hati yang dominan di hatinya perlahan akan menjadi tidak terlalu penting, dan pada akhirnya sama sekali tidak penting. Hanya dengan cara memudarkan perasaannya lah kita bisa mengobati lukanya, tidak bisa kita memaksa hati dan fikirannya untuk melupakan orang yang pernah berarti dalam hidupnya, itu sama sekali tidak mungkin, kecuali dia hilang ingatan.

3.  Perlihatkan, ceritakan, atau gambarkan luasnya dinamika kehidupan yang sesungguhnya, buat dia sadar bahwa cinta adalah salah satu bagian saja dari problem di dunia, banyak problem-problem lain yang lebih urgen daripada cinta, hal itu bisa kita tunjukkan dengan menceritakan dunia kerja, menunjukkan susahnya kehidupan orang lain, atau memotivasi untuk masa depannya agar menjadi sesuatu yang berarti. Dengan demikian pola pikirnya perlahan akan terbentuk, luka di hati tetap tidak bisa lenyap, namun luka itu tidak akan lagi terlalu dirasa karna hatinya telah terisi oleh hal-hal lain yang juga tidak kalah penting atau bahkan menjadi lebih penting ketimbang hanya soal cinta.

Bila hal-hal tersebut di atas sudah diterapkan, remaja kemungkinan besar akan bisa move on, dan tidak picik lagi dalam menyikapi persoalan cinta, yang berimplikasi terhadap masa depannya, dimana masa-masa remaja tidak hanya masa emas yang sangat berharga, melainkan juga masa batu yang bila sudah lapuk dan hancur tidak akan bisa kembali menjadi keras dan terulang menjadi batu lagi. (opini redaksi)

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Darurat cinta remaja, intervensi orang tua mutlak diperlukan"

HAK JAWAB DAN KOREKSI BISA DIKIRIMKAN KE EMAIL KAMI ATAU BISA DITULIS DI KOLOM KOMENTAR